PilarIndonesia.id (Bekasi) – Pertanian sistem Hidroponik dikenal sebagai sebuah inovasi di bidang pertanian. Hal mendasar yang membedakan antara sistem Hidroponik dengan sistem pertanian konvensional adalah pada media tanam. Pertanian Konvensional menggunakan media tanah, sementara Hidroponik menggunakan media tanam air.
Semua zat dan Nutrisi yang dibutuhkan tanaman, dengan dosis tertentu akan diberikan melalui media air. Ada banyak keunggulan produk dari sayur Hidroponik ini, diantaranya tidak terlalu membutuhkan lahan yang luas, sehingga cocok dikembangkan di wilayah perkotaan.
Produk yang dihasilkan juga secara kuantitas dan kualitas akan mudah dijaga, dan ketersediaan produk untuk memenuhi permintaan pasar bisa kontinyu, karena sistem pertanian Holtikultur Hidroponik tidak terpengaruh musim.
Saat ini, pertanian dengan sistem Hidroponik telah banyak dikembangkan menjadi bisnis Agroculture yang menjanjikan. Di daerah perkotaan seperti di Kota Bekasi, lahan pertanian sangat terbatas akibat kebutuhan lahan untuk pemukiman. Untuk itu, pilihan sistem pertanian Hidroponik yang semula sekedar hobi serta alternatif saja kini menjadi bisnis yang semakin berkembang.
Adalah, Rumah Tani Mandiri (RTM) yang berlokasi di jalan Sumur Binong Kelurahan Jatirangga, Jatisampurna Kota Bekasi, adalah tempat pertanian tanaman seperti Salada, Sawi, pokcay, kailan, kangkung dan berbagai jenis sayuran lainnya dengan menggunakan cara hidroponik. Selain pertanian, RTM juga melayani penjualan dengan sistem PTB (Petik Timbang Bayar).
“Disini, kami juga melayani penjualan dengan sistem petik sendiri, atau biasanya kami menyebutnya dengan sistem PTB yang merupakan singkatan dari petik, timbang dan bayar,” demikian dikatakan pemilik RTM, Ustadz Ruston Nawawi.
Lebih lanjut, pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Jannah ini mengatakan, dengan sistem petik sendiri, pembeli mendapatkan sayuran yang masih segar, tidak hanya itu, pembeli juga dapat bertanya cara menanam dan merawat tanaman.
“Biasanya konsumen atau pembeli lebih seneng beli langsung dipertanian seperti ini, dan biasanya mereka juga banyak yang bertanya cara menanam dan merawat sayuran dengan sistem hidroponik,”. Katanya.
Saat ini, lanjutnya, sayuran yang di tersedia di RTM ada beberapa macam dengan kisaran harga mulai dari Rp 18 ribu rupiah perkilo. Untuk mengembangkan usahanya, dirinya juga berencana di RTM akan menjual ikan segar seperti ikan Mas, gurame dan bawal. Tidak hanya itu saja, bahkan Ia juga mempunyai cita-cita mendirikan rumah makan dilokasi pertaniannya.
“Insya Allah kedepannya saya kepingin mendirikan rumah makan konsep alam terbuka dengan view tanaman hidroponik. Jadi nanti sambil makan konsumen juga dapat melihat-lihat tanaman. Doa kan saja ya mas semoga dapat terealisasi,”Pintanya.

Ditempat yang sama, salah satu pengurus di RTM, Endon, mengatakan, tanaman sayuran dengan sistem hidroponik di RTM menghindari zat kimia, bahkan dirinya juga menagatakan untuk pencegahan hama saja tidak menggunakan pestisida sehingga lebih aman.
“Semua tanaman disini tidak menggunakan pestisida untuk membasmi hama sehingga lebih aman atau lebih mudah kalau dimasak cukup dicuci dengan air saja,” terang Endon.
Ia juga menjelaskan, jenis sayuran yang ditanamnya hanya memakan waktu singkat, mulai dari penyemaian hingga panen hanya memerlukan waktu 25 hari sampai satu bulan.
“Kalau waktunya cukup cepat yah, kalau mulai penyemaian sampai panen paling sekitar 25 hari, dengan catatan benar-benar dirawat, seperti rutin membersihkan lumut dari akar tanaman, karena akar yang berlumut akan memperlambat pertumbuhan,”. Pungkasnya. (Dhit)
