
PILARINDONESIA.ID (BOGOR) – Tanda-tanda kemarau ekstrem 2026 sudah mulai terasa di berbagai daerah. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli hingga September 2026 dengan potensi fenomena El Nino moderat hingga kuat.
Dampaknya langsung terlihat pada penurunan debit sungai, waduk, hingga bendung. Di sejumlah titik, dasar sungai bahkan sudah terlihat karena airnya menyusut drastis.
Bendung Katulampa Bogor: Debit 0, Air untuk Pertanian
Salah satu daerah di Jawa Barat yang terdampak adalah Kota Bogor. Debit air di Bendung Katulampa dilaporkan mulai surut.
Koordinator Pengelola Bendung Katulampa, Andi Sudirman, mengatakan saat ini air yang tersisa diprioritaskan untuk irigasi pertanian agar petani tidak mengalami gagal panen.
“Jadi, sektor pertanian tetap menjadi prioritas utama untuk mendapatkan air yang ada,” ujar Andi.
Data terbaru menunjukkan debit air di Bendung Katulampa saat ini 0. Setiap hari air digelontorkan melalui saluran penguras sekitar 300 – 500 liter/detik. Sisa aliran dialirkan ke Kali Baru sekitar 2.500 – 3.000 liter per detik untuk mengairi lahan pertanian seluas 330 hektare.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Januari lalu saat TMA Katulampa sempat naik ke 100 cm dan berstatus Siaga 3. Fluktuasi ekstrem ini jadi bukti nyata dampak perubahan iklim.
Bekasi: Status Siaga Pantau Kiriman Air dari Bogor
Untuk wilayah Kota Bekasi, belum ada laporan pintu air menurun hingga batas minimal. Namun BPBD dan petugas Bendungan Bekasi terus meningkatkan pemantauan.
Tinggi Muka Air di Bendungan Bekasi dan Kali Malalang dipantau ketat karena sangat bergantung pada kiriman air dari hulu Bogor. Saat hujan deras, TMA bisa naik cepat. Saat kemarau, debit kiriman dari Bogor yang menurun berdampak langsung ke Bekasi.
Warga di bantaran sungai dan wilayah rawan banjir rob diimbau untuk tetap waspada.
4 Daerah Lain Alami Penurunan Debit Drastis
Selain Bogor dan Bekasi, berikut 4 wilayah lain yang sudah menunjukkan tanda kemarau ekstrem:
1. Kutai Timur, Kalimantan Timur
Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim sudah menetapkan status siaga El Nino sejak April hingga Oktober 2026. Debit air baku menyusut di wilayah Kaliorang dan Sangkulirang. Direktur Teknik menyebut penurunan debit sungai di titik intake sudah jadi sinyal awal tekanan distribusi.
2. Kebumen, Jawa Tengah
Memasuki September, krisis air bersih melanda 83 desa. Di Kecamatan Karanggayam, desa Wonotirto dan Giritirto mengandalkan air Sungai Luk Ulo. Karena sumur kering, warga membuat sumur dangkal “belik” di pinggir sungai.
3. Bantul, DI Yogyakarta
BPBD Bantul memetakan 6 wilayah rawan kekeringan: Piyungan, Dlingo, Pleret, Imogiri, Pundong, dan Srandakan. Sumur warga di daerah ini setiap tahun mengering saat kemarau.
4. Sleman, DI Yogyakarta
Pemerintah Sleman mewaspadai El Nino yang menyebabkan cuaca lebih kering dan musim kemarau berlangsung lebih panjang hingga awal 2027. Dampaknya berupa penurunan curah hujan dan peningkatan suhu.
BMKG: Puncak Kemarau Juli – September
Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, lonjakan suhu dan minimnya curah hujan dipicu peluang El Nino moderat hingga kuat. Dampaknya tidak hanya cuaca panas ekstrem, tapi juga memperpanjang durasi kemarau.
“Kita tidak bisa menghindari kemarau, tetapi kita bisa memastikan dampaknya tidak berkembang menjadi krisis,” ujar Plh. Dirjen SDA Kementerian PU, Adenan Rasyid.
Pemerintah daerah diminta segera melakukan mitigasi, manajemen waduk, sumur bor pertanian, hingga penghematan air bersih. (Red)
