
PILARINDONESIA.ID -Berbicara politik generasi millenial, momentum yang paling mencolok ialah ketika Pemilu 2019. Dimana menurut Koordinator Pusat Peneliti Politik LIPI, Sarah Suaini Siregar menyatakan, berdasarkan hasil survey lembaganya ada sekitar 35 persen sampai 40 persen pemilih dalam pemilu 2019 didominasi pemilih generasi millenial. Melihat cukup besarnya persentase pemilih tersebut, merupakan pemandangan politik yang sungguh menawan, bukan bagi penyelenggara pemilu saja yang berbangga hati. Tetapi, juga parta politik juga pasti menilai hal tersebut ibarat lahan basah yang mengandung permata yang berharga.
Namun, melihat persentase cukup mentereng tersebut. Kita tidak bisa menilai langsung, apakah keeluruhan pemilih dari generasi millenial tersebut mengerti tentang politik khususnya dalam praktek perwujudannya. Berdasarkan riset IDN Research Institute. Dalam laporan bertajuk “Indonesian Millenial report 2019”, hanya 23,4 persen yang suka mengikuti berita politik. Namun, tidak dinyatakan bahwa pemilih millenial tersebut paham akan politik. Kaum millenial cenderung menganggap politik hanya untuk orang – orang yang kuno atau generasi tua “old school”. Melihat karakteristik generasi millenial yang sebagian beaar cenderung apatis terhadap politik, mau tidak mau pendidikan politik sudah selayaknya untuk diberikan, guna pemilih millenial ini hanya menjadi objek politik.
Dari pemaparan diatas, politisi PKS yang duduk di DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj, Lilis Nurlia, sadar benar keadaan tersebut. Agar kaum milenial tidak apatis terhadap politik, dirinya kerapa mengadakan pendidikan politik di berbagai tempat.
“Guna dapat memberikan pendidikan politik yang dapat diterima oleh khalayak millenial, kita harus terjun ke dunia nya atau dengan membingkai pendidikan serta kegiatan yang sesuai dengan porsinya,” ujarnya . senin (23/06/2025).
Terlebih lagi, siklus perpolitikan di Indonesia, saat ini hampir setiap tahun selalu bergulir, dan yang paling dekat adalah ajang kontestasi pilkada 2020, melihat hasil survei di atas, dikhawatirkan pemilih millenial tersebut akan terbawa arus. Menyadari hal tersebut, sudah selayaknya pemilih tersebut diberikan pendidikan ataupun kursus mengenai pendidikan politik. Pendidikan politik yang diberikan, tidak hanya tentang penyelenggaraan negara, tetapi juga pendidikan politik secara umum dalam kehidupan bermasyarakat atau sosiologi politik, agar pemilih millenial tersebut dapat mendapatkan gambaran untuk peka dengan kondisi sekitar.
Melihat kerentanan yang terjadi, melalui pembenahan secara masif, diharapkan pemilih millenial tersebut makin terbuka dalam cara nya memandang permasalahan tentang politik. Sehingga kualitas pemilih millenial bukan hanya di bidang non politik saja yang menonjol. Bahkan, bisa saja di bidang politik justru menjanjikan sesuatu yang menarik untuk ditindak lanjuti. Sehingga kalangan pemilih millenial tersebut tidak hanya dipandang sebelah mata oleh pihak-pihak yang merasa diuntungkan dengan persentase yang besar tersebut. (ADV)
