Pempek Wiwin818 Viral di Bekasi, Modal 4,5 Juta Jadi Resto Parkir 25 Mobil, Tanpa Sentuh Uang Bank

Dari harus pinjam uang untuk susu anak, 5 tahun kemudian jadi PT Awal Berkah Bersama dengan resto 2 lantai kapasitas 150 orang di Jatiasih, ruko 4 lantai di Pondok Kelapa yang siap grand opening.

Owner Pempek Wiwin 818, Amiruddin Saat ditemui di resto miliknya

PilarIndonesia.id, (Bekasi) – Di sebuah saung bambu lesehan di Jatiasih, Kota Bekasi, duduk seorang pria dengan peci songket. Di dinding saung itu terpampang tulisan “EAT & DRINK ONLY Halalan Thoyiban” dan “say ALHAMDULILLAH AFTER you EAT”.Pria itu adalah Amiruddin, pemilik Pempek & Pindang Palembang Wiwin 818. Bisnis yang ciri khasnya warna merah-kuning itu, kini viral karena perjalanannya yang tak biasa, dari modal sisa BPJS Rp 4,5 juta dan piring milik emak, menjadi resto parkir 25 mobil tanpa pernah menyentuh uang Bank sama sekali.

Padahal, sebelum semua itu, ia pernah berada di titik terendah, bahkan untuk membeli susu anaknya saja harus meminjam uang ke temannya.

Titik Terendah: Beli Susu Harus Pinjam Teman

“Waktu masih menjadi karyawan, Amir (biasa disapa) sempat berada di titik terendah, bahkan untuk membeli susu saja harus pinjam ke temannya. Dari situlah Amir berpikir harus punya usaha, tidak bisa bekerja yang pendapatan sebulan sekali dan tidak terlalu besar,” kisahnya.

Tahun 2021, di tengah pandemi Covid-19 saat banyak orang gulung tikar, ia justru menggelar tikar. Ia resign dan mencairkan BPJS Ketenagakerjaan Rp 11 juta. Setelah dipakai mondar-mandir Palembang-Bandung, karena mempunyai istri orang Bandung, sisalah Rp 4,5 juta.

“Setelah saya pakai mondar-mandir Palembang-Bandung, sisalah Rp 4,5 juta, itu saya sampai di Bekasi,” ujarnya.

Dengan uang itulah ia membeli gerobak dan kulkas second. Untuk mengirit modal, ia membawa hampir semua perabot dari Palembang.”Sebagian memang saya bawa dari Palembang, seperti kompor punya orang tua, kalau tidak salah tabung gas pun saya bawa dari Palembang biar ngirit. Piring satu lusin punya ibu saya bawa, sendok punya ibu saya bawa, gelas juga satu lusin saya bawa,” kenangnya.

Foto tertanggal 27 Juni 2021 pukul 07.40 WIB menjadi bukti paling awal. Sehari sebelum buka, ia masih menempel huruf di gerobaknya satu per satu. Seorang anak kecil berbaju hitam membantunya jinjit memegang botol.Anak itu adalah Al, putranya. Anak yang dulu untuk membeli  susunya harus pinjam uang ke teman,kini namanya diabadikan menjadi nama perusahaan: PT AWAL Berkah Bersama, singkatan dari Amiruddin, Wiwin (istri), dan Al (anak).

Sehari kemudian, 28 Juni 2021, gerobak itu sudah mangkal di bawah pohon. Spanduknya bertuliskan PEMPEK ASLI PALEMBANG RP. 2.500 – Pempek Wiwin 818, lengkap dengan nomor WhatApps yang masih sama hingga hari ini.

“Hari pertama saya buka itu kurang lebih pendapatan Rp 340.000, Alhamdulillah saya pikir wah lumayan ini gede juga. Kemudian hari berikut dapat Rp 600 ribu,” ujarnya.

Perjuangan awal tidak mudah. Belum ada supplier, semua on the spot.”Keterbatasan waktu itu kita tidak ada supplier, jadi semuanya on the spot, ikan saya beli ke pasar sendiri, sayur-mayur untuk pembuatan pempek juga saya harus jalan kaki karena belum punya kendaraan, belum punya motor,” katanya.Baru setelah 3-4 bulan, ia mampu membeli motor second seharga Rp 2,5 juta dari teman.

Lima bulan kemudian, 5 Desember 2021, Amir sudah menyewa kios satu lokal di Jl. Wibawa Mukti II No.50 RT 006/RW 001, Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi . Gerobak legendaris dan motor perjuangan  terparkir di depan.

“Waktu itu saya menawarkan ke yang punya ruko agar saya menyewa dan  bayar bulanan. Alhamdulillah Bu Haji mempermudah, katanya tidak usah bayar setahun, bayar setengah tahun saja. Saya bilang Bu bisa tidak saya per bulan dulu. Akhirnya memudahkan sampai 2 tahun hampir 3 tahun saya tetap bayar per bulan,” kisahnya.

Dari satu kios, menjadi dua kios, lalu tiga kios ketika tetangga sebelah berhenti berdagang. Hampir 3-4 tahun ia bertahan di sana dengan prinsip yang ia pegang teguh hingga hari ini.

“Sampai hari ini juga saya jujur belum pernah sekalipun memakai uang pinjaman dari Bank. Saya tidak mau usaha ini hancur gara-gara pakai uang Bank,” tegasnya.

resto pempek wiwin 818 saat ini

Arti Wiwin 818 dan Ciri Khas Merah-Kuning

“Pempek Wiwin 818 itu diambil dari nama istri, nama istri saya Wiwin. Kalau nama saya Amir, kalau saya buat nama Pempek Amir kayaknya agak kurang pas. Jadi dibuatlah Pempek Wiwin 818 itu diambil dari tanggal bulan tahun saya nikah, ” jelasnya.

Warna merah-kuning memang menjadi ciri khas Wiwin 818 sejak gerobak pertama tahun 2021 hingga resto dan ruko 4 lantai saat ini. Kuning melambangkan gurihnya pempek goreng, merah melambangkan pedasnya cuko.

Dua Versi: Ekonomis Kakap dan Premium Tenggiri & Best Seller

Untuk menjaga otentik, sebagian bahan baku seperti gula batok asli, mie, dan sayuran khas harus didatangkan langsung dari Palembang.”Kini pempek di sini ada dua versi, ekonomis (ikan kakap) dan premium (ikan tenggiri),” jelasnya.

Semua sudah mengantongi Sertifikat halal dan SLHS.Best sellernya adalah Pindang Patin dan Pempek Kapal Selam, Lenjer, Kulit, dan Adaan. Menu lain seperti Tekwan, Model, Burgo, Lakso, Mie Celor Premium.

Serta tersedia juga anaeka minuman dan jus, seperti jus Alpukat, Durian, dan Lecy Yakult juga tersedia dengan harga mulai Rp 7 ribuan.

Januari 2026: Resto 150 Orang dan Parkir 25 Mobil

Memasuki 2026, kios tiga lokal sudah tidak muat. Terutama parkiran meluber ke jalan. Saat sholat di mushola seberang, ia mendapat info ada lokasi kosong tepat di depan kios lamanya. Lokasi itu kini menjadi resto pusat 2 lantai dengan atap ornamen songket dan wallpaper Jembatan Ampera raksasa, berkapasitas 150 orang dan parkir 25 mobil plus puluhan motor.

Baca juga: Grand Opening Pempek Wiwin 818

KETUA DPRD Kota bekasi, Sardi Efendi, ketua Komisi 2, Latu Harhary , bersama Owner Pempek Wiwin 818, Amirudin saat grand opening

Grand openingnya pada Januari 2026 dihadiri Ketua DPRD dan tokoh-tokoh lainnya.Kini di bawah PT Awal Berkah Bersama, total karyawan mencapai 70 orang. Di outlet pusat awalnya 40-50 orang, ditambah 32 orang untuk persiapan cabang baru Pondok Kelapa. 70% karyawan berasal dari Palembang, keluarga dan teman seperjuangan, 30% dari warga sekitar.

pempek wiwin 818 pondok kelapa yang akan segera dilakukan  grand opening

Outlet Pondok Kelapa sendiri adalah ruko 4 lantai berwarna kuning yang berlokasi strategis di sebelah Alfamidi. Outlet ini tidak lama lagi akan dilakukan grand opening.

Hobi Motoran dan Muslim Biker Indonesia (MBI)

Di balik kesibukannya, Amiruddin ternyata memiliki hobi motoran dan tergabung dalam komunitas MBI (Muslim Biker Indonesia).Hobi yang sejalan dengan prinsipnya, touring tapi tetap menjaga adab dan silaturahmi. Tak heran resto pusatnya yang berkapasitas 150 orang dan parkir 25 mobil itu, sering menjadi titik kumpul komunitas sekaligus tempat pengajian.

“Resto Wiwin 818 sering dipakai untuk pengajian, mungkin ini salah satu wasilah keberkahan itu,” ujarnya.

Filosofi Gerobak: Biar Bisa Bermanfaat Bagi Yang Punya Niat Usaha

Meski kini telah memiliki resto pusat 2 lantai dan ruko 4 lantai di Pondok Kelapa, Amiruddin tidak melupakan dari mana ia berasal.Sembilan gerobak kuning-merah yang menjadi saksi perjuangannya sejak harga Rp 2.500 di bawah pohon, yang dulu mangkal di Pondok Kelapa, Dukuh Zamrud, Jatiwaringin, Jati Makmur, Cilangkap, Ujung Aspal, Sumir dan titik lainnya, kini sudah tidak ia pakai sendiri untuk berjualan.Gerobak-gerobak tersebut ia berikan kepada orang-orang yang memiliki niat untuk berusaha, agar bisa bermanfaat dan membuka peluang bagi pelaku UMKM yang ingin memulai usaha kecil terlebih dahulu.” 9 Gerobak  sudah tidak dipakai, tapi buat orang yang mau usaha UMKM, biar bisa bermanfaat buat yang punya niat usaha,” ujarnya.

Cita-Cita: Umrahkan Karyawan Bergilir

Dari seorang ayah yang harus pinjam uang untuk susu anak, kini ia punya cita-cita mulia.”Cita-cita saya ingin mengumrahkan karyawan seacara bergilir, biar mereka ikut merasakan apa yang saya rasakan,” ucapnya.

iapun kembali mengingat awal buka usaha, ada tantangan yang harus di jawab, waktu banyak yang mengatakan saya terlalu nekat buka usaha disaat yang lain sudah mulai tutup karena dampat covid.

“Waktu awal-awal dibilang, Pak Amir kok berani banget, orang di Covid ini pada gulung tikar, Pak Amir malah gelar tikar. Saya bilang Allah sudah tentukan, qodarullahnya saya harus berjuang di sini. Jadi buat teman-teman yang mau buka usaha tidak usah ragu, tidak usah takut dagangnya sepi, tidak laku. Selama kita punya niat yang baik, niat yang tulus, Insya Allah Allah mudahkan,” tutupnya. (dhit)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *