Wow, Lebaran Betawi Jilid 6 “Ngarak Barong” Meriah

PILARINDONESIA.ID – Lebaran betawi jilid 6 yang diprakarsai yayasan kebudayaan orang Bekasi (KOASI) digelar dihalaman masjid al jauhar pondok pesantren Yayasan fisabillah (Yasfi), jatimurni, pondok melati kota Bekasi berlangsung meriah. Lebaran betawi ke 6 yang mengambil tema ngarak bedug dan ngarak barong ini dihadiri ratusan pelaku seni dan budaya dan juga dihadiri budayawan kondang, Ridwan Saidi.

Selain dihadiri seniman dan budayawan, juga hadir pejabat publik kota bekasi dari tingkat lurah, camat, kepala dinas dan juga plt walikota Bekasi, Tri Adhianto.

Ketua panitia lebaran betawi pondok melati ke 6, Muhyi mengatakan, acara lebaran betawi pondok melati merupakan acara rutin yang diselenggarakan setiap tahun.

“Lebaran Betawi kami gelar setiap tahun dengan tema yang berbeda, kebetulan tahun ini kami angkat tema ngarak bedug dan ngarak barong,”. Jelas Muhyi.

Dirinya juga mengatakan, setelah dua tahun tidak diadakannya acara lebaran betawi karena covid 19, kini masyarakat begitu antusias meramaikan acara lebaran betawi.

” Awal kami menggelar lebaran Betawi Pondok Melati yaitu sejak tahun 2014, seharusnya sudah yang kedelapan, namun karena tidak diselenggarakan selama dua tahun karena Pandemi. Alhamdulillah pandemi sudah hilang, walaupun belum seratus persen sehingga lebaran betawi dapat kami gelar kembali, dan warga pun sangat antusias mengikutinya,”ujarnya.

Sementara itu, sutradara lebaran betawi, Maja Yusirwan mengatakan, alasannya mengangkat tema Tradisi Ngarak Bedug dan Ngarak Barong bermaksud memperkenalkan kembali tradisi ngarak bedug dan ngarak barong pada masyarakat Bekasi.

“Khususnya tradisi ngarak barong, diperkirakan sudah ada sejak abad 19. Dikenal luas mulai tahun 1940an dan berlangsung hingga sekitar tahun 1980an, setelah itu tidak lagi diadakan karena sang tokoh pengkreasi Samin bin Boing, pembuat barong dan kedok semakin tua hingga pada akhirnya meninggal,”

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Aki Maja ini mengatakan, hampir lebih dari 40 tahun tradisi itupun menghilang. Secara filosopi Ngarak Barong merupakan ritual mengusir bala agar tidak menimpa masyarakat suatu kampung. Dahulu kala Tradisi Ngarak Barong dilakukan menjelang panen atau sehabis panen dengan tujuan megusir bala dan wabah panen padi dan hasil pertanian. Namun seiring kemajuan peradaban dan masuknya nilai-nilai religi pada masyarakat, Tradisi Ngarak Barong mengalami pergeseran makna, yang dahulu kala sebagai pengusir bala dengan menggunakan rafalan mantra, kemudian berubah sebagai tradisi menyambut kegembiraan menjelang akhir Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

“Arak-arakan Barong dilakukan menjelang seminggu setelah lebaran. Prosesinya ada sepasang pengantin di kawal dua barong dan dibelakang dikawal empat orang penggotong cepu, sebuah wadah penampung kue-kue dan hasil panen dihantar sepasukan jawara, barisan masyarakat kampung dengan diiringi musik tabuh bedug,”pungkasnya. (dhit)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *