
Tiga Bulan Jelang PORPROV XV Jabar, Kota Bekasi Kejar Dua Target Sekaligus
PILARINDONESIA.ID, (BEKASI)- Hitungan mundur dimulai. Kurang dari 90 hari lagi, tepatnya 17 November 2026, Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XV Jawa Barat resmi dibuka di Kota Bekasi.
Gencarnya persiapan mulai terlihat. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menginstruksikan jajaran camat dan lurah untuk memanfaatkan momentum HUT RI ke-81 sebagai corong sosialisasi. Tujuannya satu, memastikan warga tahu Bekasi jadi tuan rumah pesta olahraga terbesar se-Jabar.
Sebagai kota penyelenggara utama, Bekasi memang wajib tampil maksimal. Buktinya, Pemkot mengucurkan dana lebih dari `Rp500 miliar` untuk membenahi venue dan fasilitas penunjang lainnya. Angkanya fantastis.
Tapi di tengah riuh pembangunan fisik, ada suara lain yang mulai terdengar.
Dibalik proyek miliaran, ada keluh kesah atlet
Sejumlah atlet dan pelatih mengaku “kepanasan”. Bukan karena cuaca, tapi karena dana pembinaan.
Anggaran untuk persiapan tanding, biaya operasional latihan harian, hingga kebutuhan dasar cabor disebut belum sesuai harapan. Parahnya, beberapa pengurus cabor sampai harus “nombok” pakai uang pribadi. Keluhan ini bahkan sudah masuk ke Komisi IV DPRD Kota Bekasi.
Padahal semua orang tahu, seindah apapun stadionnya, yang bertanding dan merebut medali tetaplah atlet.
Venue itu panggung. Atlet itu pemainnya. Kalau pemainnya lemas, mau segede apa pun panggungnya ya percuma.
Apalagi beban moral ada di pundak Ketua KONI Kota Bekasi yang notabene juga Wali Kota. Tolak ukur sukses PORPROV di mata publik bukan di jumlah tiang pancang, tapi di jumlah medali emas yang dibawa pulang kontingen tuan rumah.
Membangun venue itu wajib. Itu investasi jangka panjang buat Bekasi setelah PORPROV usai.
Tapi kalau orientasinya hanya ke beton, semen, dan kemegahan acara pembukaan, maka kita kehilangan esensi PORPROV itu sendiri prestasi.
Masyarakat tidak akan tepuk tangan hanya karena stadionnya bagus. Yang akan diingat 10 tahun ke depan adalah, “Waktu itu Bekasi jadi juara umum nggak?”
Singkatnya, pembangunan fisik dan pembinaan atlet harus jalan bareng. Satu kecepatan.
Promosi Jalan, Tapi Sampai Mana?
Upaya wali kota memerintahkan ASN turun menyosialisasikan PORPROV sudah tepat. Tapi pertanyaannya: nyampe nggak ke bawah?
Faktanya, berdasarkan jajak pendapat cepat tim Pilar Indonesia di CFD Jalan Ahmad Yani, dari 20 warga acak yang disapa, hanya 1 orang ASN yang tahu kalau Bekasi jadi tuan rumah PORPROV 2026.
Artinya sosialisasi belum menyentuh akar rumput. Padahal waktunya mepet.
Pemkot Bekasi harus segera duduk satu meja dengan KONI, para ketua cabor, dan pelatih. Bedah satu-satu: apa yang kurang, apa yang harus dikejar.
Fokus jangan hanya ke finishing proyek. Tapi juga ke finishing para atlet.
Karena pada akhirnya, sejarah hanya mencatat dua hal, Bekasi sukses jadi tuan rumah yang baik, dan Bekasi sukses jadi juara di rumah sendiri.
Investasi terbesar olahraga bukan di cor beton. Tapi di keringat, latihan, dan perjuangan manusia yang namanya akan harum karena mengibarkan bendera Bekasi. (Tim pilar Indonesia)
