Lumbung Usia 2 Abad di Jatimurni, Saksi Sejarah Pertanian Betawi Bekasi

Lumbung berusia 200 tahun di Jatimurni, Pondokmelati, Kota Bekasi masih kokoh berdiri. Warisan sejarah pertanian Betawi peninggalan Buyut Bang Samin sejak 1824. (foto : istimewa. pilar indonesia)

PILARINDONESIA.ID  – Di tengah modernisasi Kota Bekasi, masih berdiri kokoh sebuah bangunan lumbung berusia sekitar 200 tahun di Kelurahan Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati. Lumbung ini bukan sekadar bangunan penyimpanan padi, tapi juga bukti sejarah kehidupan masyarakat Betawi Bekasi tempo dulu.

Fungsi Lumbung di Masyarakat Tempo Dulu
Di masa lalu, lumbung menjadi kebutuhan penting, terutama bagi warga yang memiliki hasil panen melimpah. Fungsi utamanya adalah menyimpan padi agar tahan lama, terhindar dari hama tikus, dan bisa digunakan sebagai stok kebutuhan untuk satu hingga dua tahun ke depan.

Di masyarakat Betawi, bangunan lumbung biasanya dimiliki oleh warga yang memiliki sawah luas. Saat panen tiba, hasil padi akan dimasukkan dan disimpan di tempat khusus ini.

Bang samin (kiri) pemilik lumbung berumur 2 abad di pondok melati, bersama ketua kebudayaan orang bekasi (koasi), bang ilok (kanan)

Lumbung Wak Banir, Warisan Tahun 1824
Salah satu lumbung tua yang masih bertahan terletak di RT 06/03, Kelurahan Jatimurni. Bangunan ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1824 oleh Buyut Bang Samin, Wak Banir bin Jusin.

Usia lumbung tersebut kini sudah memasuki 2 abad. Meski sudah sangat tua, kondisinya masih kokoh. Bangunan ini terbuat dari kayu nangka dan bilik bambu tebal. Keunikan lainnya, lumbung dibangun tanpa menggunakan paku. Sambungan antarkayu menggunakan sistem pasak kayu atau yang disebut pen, sehingga struktur bangunan tetap kuat hingga sekarang.

Sarin Sarmadi (Bang Ilok) Ketua Komisi Sejarah DK3B di depan lumbung tua Jatimurni, PondokMelati Kota Bekasi

Lokasi dan Nilai Sejarah
Lumbung tersebut berada tepat di depan Masjid Al Ikhlas, RT 06/03 Kelurahan Jatimurni. Menurut cerita Bang Samin bin Haji Neon bin Ekat bin Banir bin Jusin bin Ce Tua Baud, keluarga besarnya sengaja tidak membongkar bangunan tersebut.

BACA JUGA : warisan & tempat bersejarah di sekitar Jakarta-Bekasi

Bagi mereka, lumbung ini adalah warisan sejarah dari orang tua yang harus dijaga. Kelak, bangunan ini akan menjadi cerita dan pelajaran bagi anak cucu tentang cara hidup dan pertanian masyarakat Betawi Bekasi di masa lampau.

“Ini warisan sejarah dari orang tua kami. Kami jaga agar anak cucu bisa tahu bagaimana dulu orang Betawi menyimpan hasil panen,” cerita Bang Samin. (dhit).

sumber:
Sarin Sarmadi, atau yang akrab disapa Bang Ilok, adalah Ketua Yayasan Kebudayaan Orang Bekasi (KOASI) sekaligus Ketua Komisi Sejarah Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B).

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *