Refleksi Hari Kelahiran Pancasila: Menjaga Nilai Kebangsaan di Tengah Tantangan Zaman

Refleksi Hari Kelahiran Pancasila: Menjaga Nilai Kebangsaan di Tengah Tantangan Zaman
Oleh: Hj. Lilis Nurlia, S.Pdi, M.Pd
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat – Komisi V

Setiap tanggal 1 Juni, kita kembali dipertemukan dengan momentum penting dalam sejarah bangsa: Hari Kelahiran Pancasila. Bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi pengingat bahwa lima sila dalam Pancasila adalah kompas moral dan pijakan kita berbangsa.

Sebagai wakil rakyat di Komisi V DPRD Jawa Barat yang membidangi pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan perempuan, saya melihat betapa relevan nilai-nilai Pancasila dalam pekerjaan sehari-hari. Sila pertama mengajarkan kita untuk menghargai keberagaman keyakinan di tengah masyarakat Jawa Barat yang heterogen. Sila kedua mengingatkan pentingnya keadilan, terutama bagi anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan yang menjadi fokus kerja Komisi V.

Pancasila bukan hafalan. Ia harus hidup dalam kebijakan, dalam cara kita melayani, dan dalam cara kita mendidik generasi muda. Di sekolah-sekolah, di puskesmas, di balai-balai pemberdayaan, Pancasila harus diterjemahkan menjadi sikap: saling menghormati, gotong royong, dan mendahulukan kepentingan bersama.

Di Jawa Barat, dengan jumlah pemuda yang besar, tugas kita adalah memastikan Pancasila tidak terasa asing bagi mereka. Melalui pendidikan karakter di sekolah dan program pemberdayaan di masyarakat, kita tanamkan bahwa cinta tanah air bukan slogan, tapi sikap nyata, disiplin, toleran, dan siap berkontribusi. Pemuda Jawa Barat harus jadi garda terdepan yang menjaga persatuan di era digital.

Perempuan juga memegang peran penting dalam merawat nilai Pancasila di lingkup keluarga. Sebagai ibu, pendidik, dan penggerak sosial, perempuan adalah penjaga pertama nilai gotong royong dan kasih sayang yang menjadi ruh Sila ke-5. Karena itu, Komisi V terus mendorong penguatan peran perempuan agar nilai kebangsaan tumbuh sejak dari rumah.

Tantangan hari ini berbeda dari masa lalu. Arus informasi cepat, polarisasi mudah terjadi, dan nilai kebersamaan sering terkikis. Karena itu, peringatan Hari Kelahiran Pancasila tahun ini saya ajak seluruh elemen masyarakat Jawa Barat untuk tidak hanya upacara, tapi juga aksi nyata, mulai dari keluarga, mengajari anak berdiskusi tanpa merendahkan, hingga di ruang publik, menjaga adab dalam perbedaan pendapat.

Mari jadikan Pancasila sebagai ruh dalam membangun Jawa Barat yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bersatu. Dirgahayu Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni. Semoga nilai-nilainya terus menyala dalam dada kita semua. (akp)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *